Wakil Dubes Suriname Menyanyi di Duri

DURI (RP) – Wakil Duta Besar Suriname untuk Indonesia, Saimbang menggelar kunjungan muhibbah di Duri Ahad (30/10). Dia menggelar temu ramah penuh keakraban dengan komunitas masyarakat Duri asal Suriname di Hotel Susuka, Jalan Jendral Sudirman. ‘’Saya merasa nyaman di sini. Rasanya seperti di rumah sendiri.

Jika tak ada anak cucu di Suriname, maulah saya tinggal di sini,’’ kata Saimbang didampingi sesepuh warga Duri asal Suriname, H Sukidi.Dalam kunjungannya, Saimbang didampingi dua warga Suriname dari Jakarta, Herman dan Sarmudji.

Tak ada pengawalan khusus seputar kedatangannya. Kehadiran Saimbang disambut hangat para sesepuh warga asal Suriname.Wakil Dubes kelahiran Suriname ini berdarah Jawa. Orang tuanya asal Jombang, Jawa Timur.

Meski lahir di tanah perantauan, Saimbang ternyata masih fasih berbahasa Jawa, meski diselang-selingi bahasa Inggris dan Belanda.Karena merasa tidak asing dengan komunitas warga asal Suriname, Saimbang tak sungkan menyanyi di acara temu ramah itu.

Wakil Dubes yang akan mengakhiri masa tugasnya di Jakarta ini sempat melantunkan sebuah tembang hit Indonesia.Di acara temu kangen itu, Saimbang juga menyebut bahwa di negaranya Suriname banyak diperlukan tenaga skill, namun tenaga kerja terbatas.

Jika ada warga asal Suriname di Duri yang punya skill dan berminat bekerja di sana, dia akan memfasilitasinya. ‘’Kalau ada yang mau bekerja di sana, saya sangat senang,’’ kata Saimbang.

Sesepuh warga Duri kelahiran Suriname, H Sukidi menyebut, acara ini dadakan dan spontanitas saja. ‘’Wakil Dubes ingin temu ramah dan silaturahim dengan warga Suriname yang ada di Duri,’’ jelasnya.

Menurut Sukidi, warga Suriname di Duri dulunya berasal dari negara Suriname lalu pulang ke Indonesia dan ditempatkan di Tongar, Pasaman Barat. Karena pemberontakan PRRI, banyak warga asal Suriname dari Tongar merantau ke Duri. Sukidi sendiri sampai di Duri tahun 1963 lalu bekerja di PT CPI. Kini sudah pensiun.

Di Duri, komunitas warga asal Suriname ini bermukim di sebuah kawasan di Sebanga. Oleh warga setempat wilayah tempat warga asal Suriname itu diberi nama kampung Suriname. Kini masuk Kelurahan Titian Antui, Kecamatan Pinggir. Sampai sekarang nama itu masih melekat erat.

http://www.riaupos.co.id/berita.php?act=full&id=4829&kat=3 (Disini)

Iklan

Sungai Kuantan Mulai Tercemar

KUANTAN MUDIK (RP) – Walaupun debit air Sungai Kuantan saat ini tinggi, karena tingginya curah hujan. Namun kondisinya tetap keruh dan bercampur minyak. Hal ini diduga dikarenakan aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang berada di Hulu Kuantan dan Kuantan Mudik.

Akibat kondisi tersebut, warga mengaku bermandikan air yang bercampur dengan minyak.‘’Kami sekarang di sini (Kuantan Mudik sekitarnya) harus mandi dengan air yang bercampur minyak,’’ ujar Erman (43) salah seorang warga asal Desa Banjar Padang Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik yang menghubungi Riau Pos via telepon selulernya, Ahad (30/10).

Ia terpaksa mandi cuci dan kakus (MCK) dengan kondisi air yang bercampur minyak. ‘’Apalagi, PDAM kami sumbernya di Sungai Kuantan,’’ tambah Erman.
Sebelumnya, seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, ada sekitar 150 kapal PETI yang beroperasi di sepanjang Sungai Kuantan.

Menurutnya, lokasi ini juga berada di tengah pemukiman masyarakat setempat, tepatnya berada di Desa Kinali, Sungai Manau, Muaro Tombang, Saik, Desa Tanjung Hulu Kuantan, Sungai Alah dan Desa Lubuk Ambacang.

Kemudian, ditambahkannya, saat ini kapal dompeng PETI kembali terlihat melakukan aktivitas di pusat Kota Lubuk Jambi tepatnya di sekitar pulau yang ada di Desa Koto Lubuk Jambi dan di DAM Kampung Enau Desa Pulau Binjai yang tampak jelas terlihat di atas jembatan Lubuk Jambi di jalan nasional.

Pasalnya, terlihat ada enam kapal dompeng yang beroperasi yang mengganggu aktivitas masyarakat setempat dengan bunyi mesin dompeng yang sangat keras dan membuat air sungai bercampur minyak dengan kekeruhan yang sangat tinggi.

Padahal beberapa waktu lalu, aktivitas ini telah dilarang masyarakat dan sudah dua kali dilakukan penertiban oleh anggota Polsek Kuantan Mudik, akan tetapi aktivitas ini kembali dilakukan pelaku PETI dan sudah berlangsung empat hari beroperasi. ‘’Saya prihatin dengan kondisi ini, kasihan kami yang mengonsumsi air di Sungai Kuantan ini,’’ kesalnya.

Sementara itu, Kapolsek Kuantan Mudik Ben Hardi yang dihubungi Riau Pos, Sabtu kemarin mengatakan akan menertibkan aktivitas PETI tersebut. Dirinya tidak membenarkan dan tidak melegalkan aktivitas PETI dimanapun.(j)

Source : http://www.riaupos.co.id/berita.php?act=full&id=4811&kat=3 (Disini)

Himpun Kekuatan Untuk Jatuhkan Rezim Rusli Zainal :)

PEKANBARU, TRIBUN – Puluhan orang yang mengaku dari Aliansi Parlemen Jalanan Riau melakukan orasi di areal Taman Makam Pahlawan Pekanbaru, Jumat (28/10). Acara ini sekaligus juga untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Dalam orasinya, mereka menyoroti kebijakan penguasa yang mereka pandang telah menyengsarakan Rakyat. Rakyat miskin dan anak terlantar tidak terpelihara. Sumber daya alam dieksploitasi secara besar-besaran demi kepentingan kapitalisme. Mereka juga menyoroti berbagai macam seremonial yang menurut mereka hanya menghamburkan anggaran daerah.

Menurut mereka, Rusli Zainal sebagai penguasa daerah merupakan orang yang paling bertanggungjawab akan hal ini. Melihat kondisi tersebut, Aliansi Parlemen Jalanan Riau bertekad untuk menghancur rezim yang mereka pandang telah berbuat zalim.

Mereka juga menuntut agar kebijakan yang menurut mereka tidak berpihak kepada rakyat untuk dievaluasi.
“Kami juga menetapkan Rusli Zainal sebagai musuh bersama pemuda dan masyarakat Riau,” kata koorditor aksi, Dani.Ia menambahkan, pihaknya akan bergerak dan menggalang kekuatan untuk terus berusaha menjatuhkan rezim Rusli Zainal yang mereka pandang sebagai “Rezim Zalim”

Panwaslu Selidiki Penggunaan APBD Oleh Istri Gubernur

LSM Koalisi Masyarakat Pekanbaru Anti Suap (Kompas), melaporkan pasangan calon walikota Pekanbaru Septina-Erizal ke Panwaslu Pekanbaru , Jumat (28/10).

LSM ini mengadukan Pemprov Riau telah menggunakan APBD untuk membayar biaya iklan di media massa. Iklan tersebut adalah iklan pasangan Septina-Erizal, Berseri.Kompas mengadukan ke Panwaslu, tindakan Pemprov tersebut menguntungkan pasangan Septina-Erizal pada kontestasi Pemilukada Pekanbaru lalu.

LSM Kompas melaporkan Pemprov Riau menggunakan duit sekitar Rp 400 juta untuk pemasangan iklan tersebut. Pemasangan iklan tersebut pada periode Mei 2011.Pelapor atas nama Anis Murzil. Sedangkan saksi  penyerahan laporan bernama Sri Mulyono.

Laporan diterima Ketua Divisi Umum Panwaslu Pekanbaru, Dendy Gustiawan.Menyertai laporannya, Anis menyerahkan barang bukti kepada Dendy. Barang bukti berupa 26 lembar kwitansi pembayaran iklan ke media massa. Kwitansi iklan diterbitkan oleh perusahaan media massa.Pada kwitansi ini, nama media tertulis pada bagian kepala surat.

Pada salah satu kwitansi, tertulis kalimat berbunyi ‘menerima uang dari Pemprov Riau’. Kalimat lainnya, tertulis untuk pembayaran iklan dengan judul parade foto forum lintas etnis dukung Berseri. Bagian lainnya, menuliskan nominal Rp 4 juta.Selain itu, Anis juga menyerahkan barang bukti lain berupa daftar rekap piutang iklan Pemprov pemasangan iklan ke media massa.

Pantauan Tribun, Anis bersama empat pria lainnya, tampak sampai di kantor Panwaslu di Jalan MH Thamrin, sekitar pukul 09.45. Mereka datang dengan Avanza hitam, B 1684 SKT. Sesampai di ruangan Panwas, Dendy sudah ada di ruangan itu. Anis kemudian menyampaikan maksud kedatangannya kepada Dendy. Dendy lantas menyatakan Panwaslu wajib menerima semua laporan.

Tanpa basa-basi, Anis mulai mengisi formulir penyerahan laporan. Dendy pun tampak memeriksa kelengkapan administrasi laporan. Sesekali ia mengecek bukti kwitansi. Anis meletakkan bukti di meja.Tak lama kemudian, dialog antara Anis dan Dendy sempat memanas. Anis menyatakan ia berharap jangan sampai Panwaslu bertindak hanya menguntungkan salah satu pasangan calon.

Terang saja, kata-kata Anis di ruangan yang dipenuhi awak media itu, membuat Superleni tampak emosi.”Saya punya kewajiban menerima semua laporan. Tapi saya tidak setuju anda mengatakan Panwaslu berpihak. Jangan anda membuat opini di sini. Saya bisa tuntut apa bukti anda mengatakan kami berpihak,” kata Superleni.Anis pun tak mau kalah.

“Saya tidak mengatakan Panwaslu berpihak pada satu pasangan calon. Saya hanya mengatakan harapan saya, jangan sampai Panwaslu berpihak dan menguntungkan salah satu pasangan calon saja,” kata Anis.

Tak lama, ketegangan mereda. Anis dan Dendy kembali melanjutkan proses serah terima laporan LSM Kompas. Tak lama kemudian, Anis dan keempat temannya lantas meninggalkan kantor Panwaslu.Sementara itu, Kepala Biro Humas Setdaprov Riau, Chairul Riski saat dikonfirmasi mengenai penggunaan APBD Riau untuk iklan pasangan Berseri di media, membantah tuduhan LSM Kompas.

“Saya ingin sampaikan, kami tidak pernah menerima atau membayar tagihan Berseri. Itu urusan tim. Soal kwitansi yang disebut LSM itu, bukan kwitansi kami. Itu kwitansi dari media. Kwitansi Pemprov, harus ada tanda tangan saya dan tanda tangan PPTK,” ungkap Chairul melalui pesan singkat kepada Tribun.

Terpisah, Ketua Tim Koalisi Pasangan Berseri, Muhammadun Royan, juga membantah isi pengaduan LSM Kompas ke Panwaslu Pekanbaru. “Tidak,” jawab Muhammadun kepada Tribun Jumat malam melalui pesan singkat, menjawab pertanyaan apakah benar Pemprov Riau menggunakan APBD untuk membayar biaya iklan Berseri.
Source : Tribun pekanbaru

Sinar Mas Harus Lepaskan Harimau ke Alam

Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Kementerian Kehutanan RI, Darori, meminta Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melepaskan-liarkan seeokor Harimau Sumatera.

BBKSDA Riau awal Oktober 2011 lalu menangkap seekor Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) betina di Gaung, Indragiri Hilir.”Harimau sumatera liar harus segera dilepas, paling lambat, tiga hari dari saat penangkapan, tidak boleh terlalu lama di karantina. Penangkapan harus sesuai prosedur, tidak boleh sembarangan,” ujar Darori, saat dikonfirmasi Tribun melalui sambungan telepon, Jumat (28/10).

Harimau berumur 2,5 tahun tersebut diketahui berada di areal arboretum milik perusahaan Sinar Mas Forestry. Arboretum itu berada di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak untuk observasi.BKSDA menangkap harimau tersebut di areal konsesi Sinar Mas di kawasan Gaung, Indragiri Hilir.  Keterangan dihimpun Tribun, BKSDA menduga harimau tersebut menyerang pekerja penamam akasia.

Hingga berita ini dilaporkan, Kepala BKSDA Riau, Kurnia Rauf belum dapat dikonfirmasi. Beberapa kali dihubungi melalui sambungan telepon sejak Kamis (27/8), Kurnia tak memberi jawaban.Keterangan dihimpun Tribun, lokasi penangkapan jauh berada dari pemukiman penduduk. Lokasi ini termasuk dalam kawasan HTI salah perusahaan bubur kertas di Gaung.

Pemindahan satwa yang terancam punah tersebut diketahui telah dilakukan sejak dua pekan terakhir. Bahkan, tim medis dari Taman Safari Indonesia telah mengecek kondisi harimau.Sementara itu, penangkapan harimau bukan dilakukan BKSDA saja. Melainkan bersama dengan Yayasan Pelestari Harimau Sumatera (YPHS), mitra BKSDA.

Penangkapan satwa di areal HTI yang berbatasan langsung dengan blok hutan alam Kerumutan itu diketahui dilakukan dengan cara memasang sangkar perangkap (box trap).”Penangkapan harimau tersebut merupakan usul dari BKSDA Riau,” ungkap Bastoni, Pembina YPHS yang langsung ikut serta dalam proses tersebut.Setelah harimau ditangkap, muncul permasalahan baru. BKSDA tidak sanggup menanggung biaya perawatan hewan tersebut.

Selain itu, tingkat keamanan dalam relokasi juga harus menjadi perhatian. Dalam kondisi demikian, diketahui Sinar Mas Forestry bersedia merawat sekaligus memberikan kesempatan untuk dilakukan observasi terhadap harimau liar yang ditangkap tersebut.”Harimau harus ditempatkan di sebuah kandang, areal arboretum milik SMF.

Untuk selanjutnya dilakukan sejumlah penelitian dan pemeriksaan kesehatan oleh tim medis.Dalam sehari, harimau dapat menghabiskan sekitar lima kilogram daging,” ujar Bastoni.Humas Sinar Mas, Nurul Huda, saat dikonfirmasi Tribun belum lama ini, membenarkan pihaknya bersedia melakukan perawatan. Bahkan ia juga membenarkan harimau itu sudah ada di arboretum perusahaannya

Sekilas Tentang Danau Toba

Danau Toba Terletak 900 meter di atas permukaan laut, danau yang berada di Sumatera Utara ini terbentuk sekitar 70000 tahun yang lalu setelah terjadi letusan besar.
Danau dengan luas 1000 kilometer persegi ini adalah danau vulkanik terbesar lho di dunia. Bahkan kabarnya danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi super Toba adalah yang terbesar di bumi dalam 25 juta tahun terakhir dan juga telah menyebabkan perubahan iklim global bencana pada saat itu.

Benar-benar Fantastis ya Danau toba ini, Menakjubkan. 🙂