Himpun Kekuatan Untuk Jatuhkan Rezim Rusli Zainal :)

PEKANBARU, TRIBUN – Puluhan orang yang mengaku dari Aliansi Parlemen Jalanan Riau melakukan orasi di areal Taman Makam Pahlawan Pekanbaru, Jumat (28/10). Acara ini sekaligus juga untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Dalam orasinya, mereka menyoroti kebijakan penguasa yang mereka pandang telah menyengsarakan Rakyat. Rakyat miskin dan anak terlantar tidak terpelihara. Sumber daya alam dieksploitasi secara besar-besaran demi kepentingan kapitalisme. Mereka juga menyoroti berbagai macam seremonial yang menurut mereka hanya menghamburkan anggaran daerah.

Menurut mereka, Rusli Zainal sebagai penguasa daerah merupakan orang yang paling bertanggungjawab akan hal ini. Melihat kondisi tersebut, Aliansi Parlemen Jalanan Riau bertekad untuk menghancur rezim yang mereka pandang telah berbuat zalim.

Mereka juga menuntut agar kebijakan yang menurut mereka tidak berpihak kepada rakyat untuk dievaluasi.
“Kami juga menetapkan Rusli Zainal sebagai musuh bersama pemuda dan masyarakat Riau,” kata koorditor aksi, Dani.Ia menambahkan, pihaknya akan bergerak dan menggalang kekuatan untuk terus berusaha menjatuhkan rezim Rusli Zainal yang mereka pandang sebagai “Rezim Zalim”

Iklan

Panwaslu Selidiki Penggunaan APBD Oleh Istri Gubernur

LSM Koalisi Masyarakat Pekanbaru Anti Suap (Kompas), melaporkan pasangan calon walikota Pekanbaru Septina-Erizal ke Panwaslu Pekanbaru , Jumat (28/10).

LSM ini mengadukan Pemprov Riau telah menggunakan APBD untuk membayar biaya iklan di media massa. Iklan tersebut adalah iklan pasangan Septina-Erizal, Berseri.Kompas mengadukan ke Panwaslu, tindakan Pemprov tersebut menguntungkan pasangan Septina-Erizal pada kontestasi Pemilukada Pekanbaru lalu.

LSM Kompas melaporkan Pemprov Riau menggunakan duit sekitar Rp 400 juta untuk pemasangan iklan tersebut. Pemasangan iklan tersebut pada periode Mei 2011.Pelapor atas nama Anis Murzil. Sedangkan saksi  penyerahan laporan bernama Sri Mulyono.

Laporan diterima Ketua Divisi Umum Panwaslu Pekanbaru, Dendy Gustiawan.Menyertai laporannya, Anis menyerahkan barang bukti kepada Dendy. Barang bukti berupa 26 lembar kwitansi pembayaran iklan ke media massa. Kwitansi iklan diterbitkan oleh perusahaan media massa.Pada kwitansi ini, nama media tertulis pada bagian kepala surat.

Pada salah satu kwitansi, tertulis kalimat berbunyi ‘menerima uang dari Pemprov Riau’. Kalimat lainnya, tertulis untuk pembayaran iklan dengan judul parade foto forum lintas etnis dukung Berseri. Bagian lainnya, menuliskan nominal Rp 4 juta.Selain itu, Anis juga menyerahkan barang bukti lain berupa daftar rekap piutang iklan Pemprov pemasangan iklan ke media massa.

Pantauan Tribun, Anis bersama empat pria lainnya, tampak sampai di kantor Panwaslu di Jalan MH Thamrin, sekitar pukul 09.45. Mereka datang dengan Avanza hitam, B 1684 SKT. Sesampai di ruangan Panwas, Dendy sudah ada di ruangan itu. Anis kemudian menyampaikan maksud kedatangannya kepada Dendy. Dendy lantas menyatakan Panwaslu wajib menerima semua laporan.

Tanpa basa-basi, Anis mulai mengisi formulir penyerahan laporan. Dendy pun tampak memeriksa kelengkapan administrasi laporan. Sesekali ia mengecek bukti kwitansi. Anis meletakkan bukti di meja.Tak lama kemudian, dialog antara Anis dan Dendy sempat memanas. Anis menyatakan ia berharap jangan sampai Panwaslu bertindak hanya menguntungkan salah satu pasangan calon.

Terang saja, kata-kata Anis di ruangan yang dipenuhi awak media itu, membuat Superleni tampak emosi.”Saya punya kewajiban menerima semua laporan. Tapi saya tidak setuju anda mengatakan Panwaslu berpihak. Jangan anda membuat opini di sini. Saya bisa tuntut apa bukti anda mengatakan kami berpihak,” kata Superleni.Anis pun tak mau kalah.

“Saya tidak mengatakan Panwaslu berpihak pada satu pasangan calon. Saya hanya mengatakan harapan saya, jangan sampai Panwaslu berpihak dan menguntungkan salah satu pasangan calon saja,” kata Anis.

Tak lama, ketegangan mereda. Anis dan Dendy kembali melanjutkan proses serah terima laporan LSM Kompas. Tak lama kemudian, Anis dan keempat temannya lantas meninggalkan kantor Panwaslu.Sementara itu, Kepala Biro Humas Setdaprov Riau, Chairul Riski saat dikonfirmasi mengenai penggunaan APBD Riau untuk iklan pasangan Berseri di media, membantah tuduhan LSM Kompas.

“Saya ingin sampaikan, kami tidak pernah menerima atau membayar tagihan Berseri. Itu urusan tim. Soal kwitansi yang disebut LSM itu, bukan kwitansi kami. Itu kwitansi dari media. Kwitansi Pemprov, harus ada tanda tangan saya dan tanda tangan PPTK,” ungkap Chairul melalui pesan singkat kepada Tribun.

Terpisah, Ketua Tim Koalisi Pasangan Berseri, Muhammadun Royan, juga membantah isi pengaduan LSM Kompas ke Panwaslu Pekanbaru. “Tidak,” jawab Muhammadun kepada Tribun Jumat malam melalui pesan singkat, menjawab pertanyaan apakah benar Pemprov Riau menggunakan APBD untuk membayar biaya iklan Berseri.
Source : Tribun pekanbaru

Sinar Mas Harus Lepaskan Harimau ke Alam

Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Kementerian Kehutanan RI, Darori, meminta Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melepaskan-liarkan seeokor Harimau Sumatera.

BBKSDA Riau awal Oktober 2011 lalu menangkap seekor Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) betina di Gaung, Indragiri Hilir.”Harimau sumatera liar harus segera dilepas, paling lambat, tiga hari dari saat penangkapan, tidak boleh terlalu lama di karantina. Penangkapan harus sesuai prosedur, tidak boleh sembarangan,” ujar Darori, saat dikonfirmasi Tribun melalui sambungan telepon, Jumat (28/10).

Harimau berumur 2,5 tahun tersebut diketahui berada di areal arboretum milik perusahaan Sinar Mas Forestry. Arboretum itu berada di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak untuk observasi.BKSDA menangkap harimau tersebut di areal konsesi Sinar Mas di kawasan Gaung, Indragiri Hilir.  Keterangan dihimpun Tribun, BKSDA menduga harimau tersebut menyerang pekerja penamam akasia.

Hingga berita ini dilaporkan, Kepala BKSDA Riau, Kurnia Rauf belum dapat dikonfirmasi. Beberapa kali dihubungi melalui sambungan telepon sejak Kamis (27/8), Kurnia tak memberi jawaban.Keterangan dihimpun Tribun, lokasi penangkapan jauh berada dari pemukiman penduduk. Lokasi ini termasuk dalam kawasan HTI salah perusahaan bubur kertas di Gaung.

Pemindahan satwa yang terancam punah tersebut diketahui telah dilakukan sejak dua pekan terakhir. Bahkan, tim medis dari Taman Safari Indonesia telah mengecek kondisi harimau.Sementara itu, penangkapan harimau bukan dilakukan BKSDA saja. Melainkan bersama dengan Yayasan Pelestari Harimau Sumatera (YPHS), mitra BKSDA.

Penangkapan satwa di areal HTI yang berbatasan langsung dengan blok hutan alam Kerumutan itu diketahui dilakukan dengan cara memasang sangkar perangkap (box trap).”Penangkapan harimau tersebut merupakan usul dari BKSDA Riau,” ungkap Bastoni, Pembina YPHS yang langsung ikut serta dalam proses tersebut.Setelah harimau ditangkap, muncul permasalahan baru. BKSDA tidak sanggup menanggung biaya perawatan hewan tersebut.

Selain itu, tingkat keamanan dalam relokasi juga harus menjadi perhatian. Dalam kondisi demikian, diketahui Sinar Mas Forestry bersedia merawat sekaligus memberikan kesempatan untuk dilakukan observasi terhadap harimau liar yang ditangkap tersebut.”Harimau harus ditempatkan di sebuah kandang, areal arboretum milik SMF.

Untuk selanjutnya dilakukan sejumlah penelitian dan pemeriksaan kesehatan oleh tim medis.Dalam sehari, harimau dapat menghabiskan sekitar lima kilogram daging,” ujar Bastoni.Humas Sinar Mas, Nurul Huda, saat dikonfirmasi Tribun belum lama ini, membenarkan pihaknya bersedia melakukan perawatan. Bahkan ia juga membenarkan harimau itu sudah ada di arboretum perusahaannya

Ratusan Siswa Serang SMKN 2 Tanjungpinang

Sebanyak 200 siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kota Tanjungpinang nyaris terlibat baku hantam dengan para pelajar SMKN 2 Kota Tanjungpinang, Sabtu (29/10/2011) siang.

Aksi penyerangan yang nyaris berujung pada bentrokan itu berawal ketika adanya ajakan berkelahi yang dilontarkan seorang pelajar di SMKN 2.

Alhasil ratusan pelajar SMKN 3 meradang dan langsung menyerbu dengan mendatangi kompleks SMKN 2 sekitar pukul 11.00 WIB, dimana saat itu seluruh pelajar SMKN 2 tengah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Namun informasi tersebut ternyata ‘bocor’ dan sampai ke telinga aparat Polres Tanjungpinang. Saat itu juga puluhan personel Sabhara diterjunkan ke SMKN 2.

Setibanya di lokasi, polisi berhasil mengamankan beberapa pelajar SMKN 3 untuk selanjutnya dibawa ke Mapolresta Tanjungpinang. “Saya tadi hanya jalan-jalan saja ke SMKN 2 untuk minum air kelapa. Saya tidak ikut menyerang. Saya datang mau bertemu kawan yang bekerja di jalan Haji Ungar,” elak Rudi, siswa kelas II jurusan Mesin Elektro, SMKN 3

Nokia N9 Tampil dengan Layar Lebih Jernih

Rencana peluncuran Nokia seri N9 akan dipastikan bakal sukses sama seperti para pendahulunya, N8 dan N7.Informasi yang diperoleh Tribun, Nokia N9 memiliki layar amoled yang jernih, sehingga memberikan efek tampilan ikon menu yang seolah-olah mengambang di layar. Hal itu diutarakan Promoter Nokia Plaza Medan Fair Dewijunita Bangun, Sabtu (29/10/2011).

Pada varian terbaru ini, pengguna juga dengan mudah menikmati kenyamanan interaksi mengoperasikan ponsel dengan gerakan swipe untuk bernavigasi antar tampilan berbeda atau saat menggunakan layanan Nokia favorit.

Pengguna juga akan melakukan seluruh akses melalui gerakan swipe, sebab jenis ini tidak dilengkapi tombol menu sehingga layar dapat dimaksimalkan untuk menampilkan konten pengguna saja.

Untuk urusan spesifikasi, varian premium ini tidak usah diragukan. Untuk urusan dimensi, telah ada 116.45 mmx61.2 mmx7.6-12.1 mm, untuk penggunaan secara leluasa layar.

Dengan menggunakan baterai BV-5JW, jenis ini juga mampu untuk digunakan berbicara selama 11 jam, atau waktu siaga selama 380 jam. Untuk urusan internal, telah terbenam 16 GB memory, dan 8 MP kamera plus carl-zeiss AF dengan dual LED Flash, yang membuat kegunaan handphone ini kian maksimal.

Selain itu, urusan merekam video varian ini juga telah mampu melakukan 720p HD dengan 30 fps, yang dilengkapi perekam suara stereo. Untuk urusan konektifitas, jenis ini telah dilengkapi WLAN 802.11 a/b/g/n, near field communication (NFC), bluetootht 2.2, micro USB 2.n 3.5mm AV connector, GPS dan AGPS yang membuat mahakarya Nokia ini mengimbangi handphone di kelasnya.

Untuk isi paket penjualan sendiri, konsumen akan memperoleh Nokia fast USB charger AC-16x, Nokia Charging and data cable CA-185CD, Nokia Stereo Headset WH-901 plus get started guide, yang membuat pengalaman menggunakan handphone prestisius ini kian maksimal

Waduh…Dada Mahasiswi Pekanbaru ini Dipegang Pria Tak Dikenal

Kaum hawa saat ini harus lebih berhati-hati lagi ketika membawa kendaraan dijalan raya, karena bukan saja akan menjadi korban jambret tapi bisa juga menjadi korban pelecehan seksual.

Misalnya yang dialami mahasiswi Diva Aruni (19), Selasa (25/10) sekitar pukul 16.30 WIB lalu saat berkendara motor di depan gereja HKBP Jalan Mustika, Pekanbaru. Payudarannya dipegang oleh pria yang tak dikenal.

Menurut Devi dalam laporannya, sekitar pukul 16.30 WIB  ia mengendarai sepeda motornya di Jalan Mustika. Ketika sampai di tempat kejadian perkara tiba-tiba datang seorang pria yang tak dikenalnya muncul dari belakang dengan mengendarai sepeda motor Suzuki Smash BM 6134 TV warna biru.

Setelah jarak korban dengan pelaku begitu dekat tanpa diduga korban pelaku langsung saja memegang Payudara korban dan kabur tancap gas. Tak terima atas ulah pria yang tak dikenalnya itu Devi melapor ke kantor polisi.

Kabid Humas Polda Riau AKBP S Pandiangan saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (27/10) membenarkan ada laporan pelecehan seksual secara tertulis dari jajaran Polresta Pekanbaru masuk ke Polda Riau.

Menurut Pandiangan, laporan tersebut masih dalam penyelidikan pihak reskrim jajaran Polresta Pekanbaru. “Saat ini penyidik sudah meminta keterangan dari korban, dan penyidik juga akan meminta keterangan dari para saksi serta terlapor,” ungkap Pandiangan.

Gereja Katolik Jerman Bisnis Majalah Porno

Gereja Katolik di Jerman dilaporkan mendapatkan keuntungan miliaran euro dari penjualan ribuan buku porno berbagai judul. Umat Katolik Jerman telah berulangkali memprotes, tapi tidak ada perubahan.

Dilansir dari harian Jerman Die Welt, Jumat 28 Oktober 2011, keuntungan tersebut berasal dari perusahaan media terbesar Jerman, Weltbild. Perusahaan ini memproduksi buku, DVD, musik, dan yang terakhir, materi pornografi. Tidak ada yang tahu siapa pemilik Weltbild sebelum laporan Buchreport mengatakan bahwa perusahaan dengan penjualan terbesar setelah Amazon ini dimiliki 100 persen oleh Gereja Katolik.

Perusahaan media ini membawahi Blue Panther Books yang khusus mencetak materi pornografi. Tercatat, sekitar 2.500 judul buku erotis terdapat pada katalog online mereka. Di antara judul-judulnya adalah Anwaltshure (Pengacara Pelacur), Vogelbar (Dapat Digagahi) dan Schlampen-Internat (Pelacur Asrama).

Tidak hanya perusahaan ini, Gereja Katolik Jerman juga dilaporkan memiliki 50 persen saham pada perusahaan percetakan Droemer Knaur, yang juga memproduksi majalah dewasa.Saat ini, perusahaan Weltbild yang berbasis di Augsburd mempekerjaan sekitar 6.400 orang, dan menjadi salah satu perusahaan terbesar Jerman. Weltbild juga menguasai 20 persen pasar buku negara tersebut.

Keuntungan tahunannya juga fantastis, mencapai 1,7 miliar euro atau sekitar Rp21,1 triliun. Die Welt menuliskan bahwa keuntungan ini akan semakin bertambah jika Weltbild meneruskan menjual materi pornografi.

Beberapa komunitas Katolik yang mengetahui hal ini sejak lama, selama 10 terakhir telah berusaha memberitahu pihak gereja mengenai aktivitas perusahaan yang mereka miliki.
Bahkan pada tahun 2008, kelompok ini mengirimkan 70 halaman dokumen berisikan bukti-bukti produksi pornograsi WeltBild kepada semua uskup di keuskupan Jerman.

Kelompok ini mengaku berang saat yang mereka terima adalah jawaban yang menurut mereka munafik. “Weltbild mencoba untuk menghindari distribusi konten pornografi,” kata salah seorang juru bicara gereja.

Sempat Jadi Dosen, Kontrak Habis, lalu Kerja Serabutan

Soegeng Soejono, satu di antara segelintir orang Indonesia yang masih tersisa di tanah pengasingan, Republik Ceko. Meski begitu, di usia senjanya, dia ingin mengabdikan tenaga dan pikiran untuk ‘Tanah Air’-nya. Siang itu, 15 Oktober, rombongan Jawa Pos Group yang baru saja mengikuti Kongres Koran Sedunia di Wina, Austria, sudah ditunggu sejumlah staf KBRI di Praha.

Tempatnya bukan di kantor KBRI, melainkan di sebuah taman di sentra ibu kota Republik Ceko itu. Taman tersebut begitu ramai. Ribuan wisatawan dari berbagai negara hilir-mudik menikmati suasana pusat perbelanjaan suvenir ala Malioboro, Jogja tersebut. Meski begitu, pertemuan informal antara staf KBRI Praha dan rombongan Jawa Pos Group di taman kota itu berlangsung akrab. ‘’Hati-hati, dompet, tas, dan kamera. Di sini banyak copet. Tidak hanya di Indonesia yang ada copetnya,’’ ujar Guntur, salah seorang staf KBRI Praha, mengingatkan.

Guntur lalu mengenalkan tiga laki-laki tua yang akan jadi pemandu rombongan. Mereka adalah Soegeng Soejono, Siswantono dan Anwar Purnama. Mereka bukan staf KBRI, tapi tiga kakek-kakek itu memang sering ‘dimanfaatkan’ tenaganya untuk jadi guide (pemandu) orang Indonesia yang berkunjung ke Ceko. ‘’Bapak-bapak ini yang akan mendampingi rombongan. Beliau sudah berpengalaman,’’ ujar Guntur.Tiga orang itu memang asli Indonesia. Hanya, mereka sudah puluhan tahun ‘terdampar’ di Republik Ceko. Bahkan, sudah jadi warga negara itu.

Mereka adalah para pelajar yang dulu dikirim pemerintah Soekarno pada 1960-an untuk belajar di Eropa. Namun, akhirnya tak bisa kembali karena dituduh komunis oleh pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto.  ‘’Kami ini orang-orang terbuang. Kami sangat kecewa pada pemerintahan Soeharto yang sewenang-wenang dan asal tuduh. Kami dibilang anggota PKI,’’ ungkap Soejono mewakili dua temannya.

Meski usianya sudah menginjak 73 tahun, Soejono tampak masih gesit dan sehat. Logat dan gaya bicara bahasa Indonesianya juga tak berubah jadi kebarat-baratan. Bahkan, terdengar njawani. ‘’Lha saya ini asli Madiun, tapi dibesarkan di Jogja dan Magelang. Saya lulusan SMA Pendowo, Magelang, 1958,’’ aku laki-laki berpostur kecil dengan guratan wajah ramah itu.

Begitu lulus SMA, Soejono memang tak langsung melanjutkan kuliah. Orangtuanya tak punya biaya. Baru pada 1963 dia berkesempatan menempuh pendidikan di perguruan tinggi. ‘’Saya masih ingat meninggalkan Indonesia pada 10 September 1963. Sejak itu tak pernah kembali ke Indonesia. Jadi, sudah 48 tahun lebih saya tinggal di Ceko,’’ jelasnya.

Di negara sosialis itu, Soejono belajar filsafat di Charles University. Tapi, belum sempat merampungkan kuliah, di Tanah Air pecah revolusi berdarah, Gerakan 30 September 1965 yang konon didalangi PKI.

Kondisi inilah yang akhirnya membawa ketidakpastian bagi sebagian mahasiswa yang sedang menempuh studi di luar negeri, terutama di negara-negara Eropa Timur. Sebab, mereka dianggap berhaluan ‘kiri’ dan PKI. Akibatnya, mereka tak berani pulang ke Tanah Air. ‘’Kalau pulang, berarti setor nyawa. Kalau tak dibunuh, ya masuk bui,’’ ujar ayah dua anak itu.

Dia menyebut beberapa kawannya yang akhirnya tewas begitu tiba di Indonesia. Beberapa lainnya dibuang ke Pulau Buru bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer. ‘’Tapi, ada juga yang selamat. Bahkan, njadi menteri dan pejabat di era Orba maupun setelah itu,’’ lanjut Soejono tanpa bersedia menyebut nama-nama itu.

Menurutnya, dari 100 mahasiswa yang dikirim pemerintah Soekarno ke Eropa Timur, akhirnya tinggal sekitar 30 yang memilih tak pulang ke Tanah Air, termasuk Soejono. ‘Orang-orang terbuang’ itu kemudian melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto. Mereka antipati terhadap rezim Orba yang mereka nilai zalim dan sewenang-wenang.

Selain filsafat, Soejono mempelajari pedagogik dan psikologi anak di kampus yang sama. Kelak, tiga ilmu itu dia manfaatkan untuk mengajar di almamaternya. ‘’Saya sepuluh tahun mengajar di Charles University. Terutama mengajar bahasa dan budaya Indonesia pada para mahasiswa Ceko,’’ tuturnya. Di Charles University memang ada Indonesian Studies. Bahkan, sampai kini program itu masih dipertahankan. Soejono mesti membanting tulang untuk bertahan hidup di negeri orang. Itu sebabnya, selain mengajar, dia bekerja sambilan di perpustakaan Kota Praha.

Dia kembali bekerja ekstra lagi setelah kontraknya mengajar dan menunggu perpustakaan habis. ‘’Saya kemudian jadi buruh serabutan. Khususnya untuk kegiatan pameran-pameran,’’ tambahnya.

Source : http://www.Riaupos.co.id

Anugerah Sagang Pilar Kebudayaan Melayu

PEKANBARU (RP)- Anugerah Sagang dinilai merupakan pilar yang memiliki arti penting dalam mendukung pengembangan dan eksistensi budaya Melayu. Untuk itu, Gubernur Riau HM Rusli Zainal mengatakan, Pemprov Riau terus mendukung kegiatan yang merupakan simbol tradisi di Bumi Lancang Kuning.

Kesungguhan ini disampaikan karena hal itu berperan positif dalam mendukung Visi Riau 2020. ‘’Saya mengucapkan selamat kepada para pemenang Anugerah Sagang 2011. Ini diharapkan jadi spirit dan semangat dalam melestarikan budaya Melayu di Riau,’’ tutur Rusli dalam malam Anugerah Sagang 2011 di Hotel Pangeran, Jumat (28/10).

Menurutnya, Sagang secara filosofis merupakan semangat untuk menjadi penyangga dan penopang. Sehingga dapat menggambarkan semangat seniman untuk mendapat tempat terhormat dengan karyanya.
Di tengah lajunya arus globalisasi, para seniman dan budayawan dapat jadi pilar dan filter dalam mempertahankan eksistensi budaya Melayu. ‘’Secara khusus saya memberikan apresiasi kepada Bapak Rida K Liamsi dalam dedikasinya di bidang budaya.

Ini diharapkan jadi motivasi bagi pecinta seni lainnya,’’ papar GubriKetua Dewan Pembina Yayasan Sagang, Rida K Liamsi mengatakan Anugerah Sagang merupakan apresiasi atas kerja keras para seniman yang berperan dalam pengembangan budaya Melayu. Para pemenang Anugerah Sagang diberi tropi Sagang, sertifikat dan sejumlah uang. ‘’Teruslah berkarya untuk perkembangan budaya Melayu,’’ tuturnya.

Anugerah Sagang kali ini memiliki keistimewaan karena juga dihadiri para penyair dari Korea dan ASEAN serta berbagai daerah di Indonesia.Menurut Rida, Anugerah Sagang 2011 tak jauh berubah dari tahun sebelumnya.

Anugerah Sagang Kencana rencana akan dilaksanakan tahun 2015. Jumlah peserta yang masuk sangat banyak. Terutama untuk karya alternatif, seperti film, musik, drama, sehingga panitia harus bekerja keras.

Yayasan Sagang juga berniat menambah kategori lain, namun belum bisa terwujud. Begitu juga dengan hadiah yang diberi.Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR) Eddy Ahmad RM juga memberi apresiasi kepada para pecinta seni dan budayawan atas konsistensinya berkarya. ‘’Ini bukti, bahwa seni tetap hidup,’’ ujarnya.Eddy juga menyampaikan apresiasi terhadap Yayasan Sagang yang terus peduli mempertahankan kebudayaan Riau, di tengah institusi kesenian yang mati suri.

Bahkan hampir praktis dua tahun belakangan ini, Dewan Kesenian di kabupaten/kota se-Riau tak bisa berkontribusi karena dukungan dana tak memadai. Tapi para seniman, budayawan Riau tak berhenti berkarya. ‘’Buktinya, malam ini, para seniman, penyair Riau meraih penghargaan,’’ ujarnya.Beri Rp70 JutaSebagai wujud kesungguhannya dalam mendukung pengembangan budaya Melayu, Gubri HM Rusli Zainal SE MP juga memberi Rp10 juta untuk tujuh pemenang Anugerah Sagang 2011. ‘’Kita harus memberi apresiasi pada seniman dan pecinta seni.

Karena karya mereka merupakan komitmen positif dalam mendukung Pemprov Riau dalam pencapaian Visi Riau 2020,’’ ujarnya. Dia menambahkan, dukungan juga diberi untuk pengembangan budaya lainnya. Baik dalam bentuk pendidikan budaya hingga kegiatan positif lainnya. ‘’Ini jadi kewajiban kita untuk mewujudkan program-program pengembangan kebudayaan. Karena kita sudah bersepakat, untuk itu kita harus bersinergi dalam mewujudkannya,’’ tutur Gubri.Semarak Malam Anugerah Sagang 2011 berlangsung semarak.

Berbagai kesenian bernuansa Melayu ditampilkan mahasiswa Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR).
Hentakan kesenian Melayu membuat suasana terasa hidup dengan gesekan biola, akordion, gambus dan alat musik lainnya. Ballroom Hotel Pangeran yang berkapasitas sekitar 1.000 orang pun terisi penuh.  

Turut hadir, istri Gubri Hj Septina Primawati Rusli, Ketua DPRD Riau Drs H Johar Firdaus, Budayawan Riau H Tenas Effendy, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Bupati Siak Drs H Syamsuar, Sekko Pekanbaru HM Wardan MP, para peserta Korea-ASEAN Poets Literatures (KAPLF) II serta sejumlah undangan lainnya dari berbagai instansi pemerintah dan swasta.

Ketua Yayasan Sagang Kazzaini Ks mengatakan, Sagang adalah sebuah kayu penyangga. Kini, pelaksanaan Anugerah Sagang sudah menginjak usia ke-16 kalinya. Majalah budaya Sagang pertama kali diterbitkan di Riau Pos dan kini dibentuk yayasan dan terus berupaya memberi tempat terhormat kepada para seniman, budayawan dan peneliti. ‘’Dulu hanya dua kategori yakni Seniman dan Buku Pilihan Sagang. Tapi sekarang sudah tujuh kategori.

Pada pelaksanaan ke-16 ini, bertepatan dengan 28 Oktober, peringatan Sumpah Pemuda,’’ ujarnya. Yayasan Sagang sejak beberapa bulan lalu juga mengurus AKMR yang diharap jadi penyokong kebudayaan di Riau. Kazzaini juga menyampaikan terima kasih kepada para seniman dan budayawan di Riau yang sudah banyak memberi masukan dan kritikan.

Sebagaimana yang sudah diumumkan panitia Anugerah Sagang 2011, kategori Karya Penelitian Sagang 2011 diraih Bambang Kariyawan, guru SMA Cendana Rumbai. Kategori Karya Jurnalistik Budaya diraih Fedli Aziz dari Riau Pos. Institusi Budaya Pilihan Sagang diraih Kampung Maskom, Bengkalis. Kategori Alternatif diraih Endrawati Razak lewat ‘’Keluarga Bakar’’. Karya Buku Pilihan diraih Sunting, kumpulan puisi Kunni Masrohanti. Kategori Seniman/Budayawan Serantau diraih Tom Ibnur dari Jakarta. Seniman/Budayawan Sagang 2011 diraih Marhalim Zaini.Pemenang diberi tropi, sertifikat dan sejumlah uang.

Namun semua itu hendaknya tidak dilihat dari apa yang diberi. Menurut Rida K Liamsi, pandanglah dari penghargaan yang diberikan untuk mempertahankan budaya Melayu. ‘’Apa yang dilakukan saat ini takkan bisa apa-apa tanpa dukungan masyarakat terutama kalangan seniman, Pemprov Riau serta kabupaten/kota yang sudah memberi dukungan,’’ ujarnya.Tropi yang akan diberikan dibawa tujuh gadis.

Penyerahan hadiah diserahkan masing-masing oleh Gubri HM Rusli Zainal, Ketua DPRD Johar Firdaus, Budayawan Riau Tenas Effendy, CEO Riau Pos Group H Makmur SE, Rektor Universitas Riau Prof Ashaluddin Djalil, Bupati Siak Drs H Syamsuar dan Ketua DKR Eddy Ahmad RM.Seniman/Budayawan Serantau Pilihan Sagang 2011, Tom Ibnur mengatakan, Anugerah Sagang kental dengan budaya Melayu.

Dia merasa kalau baru setitik karya yang dilahirkannya. Namun ternyata itu sudah memberi nilai bagi kebudayaan Melayu. Karena itu, baginya anugerah ini akan terus jadi pemicu untuk terus berkarya. Tapi, Tom Ibnur mengaku masih belum puas, jika Riau belum berdiri Zapin Center yang akan jadi bakti seumur hidupnya.Zainudin yang mewakili Kampung Meskom Bengkalis menyebutkan, apa yang diraih saat ini adalah sebuah hasil kerja sama semua rekannya.

Sementara menurut Endrawati Razak, Anugerah Sagang yang diterimanya adalah yang kali pertama diraihnya setelah sebelumnya juga masuk nominator. Itu telah memberi spirit baru baginya untuk terus berkarya.Kunni Masrohanti mengatakan, apa yang diraihnya kini tak lepas dari dukungan rekan-rekan kerjanya di Pekanbaru Pos, keluarga, orangtua, serta anak-anak. ‘’Tanpa itu, tak mungkin bisa berhasil,’’ ujarnya.Sedang Bambang Kariyawan menyebut, baginya Anugerah Sagang beda dari penghargaan lainnya.

Dari segi publikasi, Sagang diekspos selama hampir sebulan, mulai masuk nominator maupun sebagai pemenang. Tak hanya media massa cetak juga elektronik. Ini merupakan semangat baru baginya untuk terus berkarya dan berharap itu bisa bermanfaat.Fedli Aziz juga berucap syukur. Namun itu semua tetap berkat Riau Pos yang memberi banyak halaman untuk bisa menulis panjang. Sehingga persaingan pun jadi lebih kompetitif. Dan itu tak membuatnya berhenti, tapi justru sebagai pemicu untuk terus berkarya. Semua ini tak lepas dari dukungan semua orang dekatnya seperti sang istri, Rina yang selalu mengkritisinya sehingga terus mendorong untuk menulis.

Marhalim Zaini menyampaikan orasi singkat serta berpuisi. Menurutnya, apa yang diraihnya saat ini adalah sebuah proses dan kerja keras. Menulis baginya adalah sebuah pilihan hidup dan dia harus bersedia masuk ‘bilik’ untuk bekerja melahirkan karya.Pembangkit SastrawanBudayawan yang juga tokoh masyarakat Riau, Tenas Effendy menyatakan kegembiraannya karena Sagang tetap jadi yang terdepan dan motivator pengembangan budaya Melayu.

Dia juga mengucapkan tahniah serta bangga kepada peraih Anugrah Sagang. Banyak seniman muda yang berjaya. ‘’Tak ada yang bisa memungkiri, Anugrah Sagang sangat berkesan untuk pengembangan kebudayaan Melayu. Tak hanya di Riau, serumpun juga mengenal Sagang. 16 tahun itu bukan waktu yang sebentar, ini harus dipertahankan.
Mereka tak menilai berapa yang mereka dapatkan, tapi kreasi besar yang mereka ciptakan,’’ jelasnya. Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Pelalawan yang juga Ketua KPU Riau, Tengku Edy Sabli menyebutkan, Anugerah Sagang sudah menunjukkan dedikasinya sebagai pembangkit sastrawan.

Banyak sastrawan muda yang muncul berkreatifitas dalam mengembangkan budaya Melayu. Dia yakin, Sagang tak hanya jadi milik Riau tapi juga internasional karena kebudayaan Melayu yang besar. ‘’Masyarakat harus bangga jadi orang Melayu. Ke depan kita harap bermunculan seniman budayawan muda yang berpotensi dari Anugerah Sagang,’’ ujarnya.

Sekretaris Kota Pekanbaru yang juga salah seorang tokoh LAM Riau, HM Wardan menilai, Anugerah Sagang selain jadi barometer pengembangan budaya juga jadi arah perkembangan sastrawan yang kreatif. ‘’Eksistensi Sagang tak diragukan lagi. Sesuai Visi Riau sebagai pusat budaya Melayu, Sagang memang pantas dikedepankan,’’ jelasnya.

Apresiasi Pengunjung
Arena pameran di prosesi Anugerah Sagang di Ballroom Hotel Pangeran Pekanbaru juga menarik perhatian para tamu dan pengunjung. Mereka bisa melihat sejak awal pemberian Anugerah Sagang sampai sekarang, bahkan beberapa di antaranya sempat mengabadikan.

Gubri HM Rusli Zainal MP pun menyempatkan diri melihatnya. ‘’Saya terkesan dengan pameran ini. Itu merupakan bentuk apresiasi terhadap para seniman dan budayawan,’’ kata Rusli. Salah seorang pengunjung, Dani (24) mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning sempat memperhatikan secara detail para penerima anugerah mulai tahun 2006 hingga 2010.

Source : http://www.Riaupos.co.id

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: