Sempat Jadi Dosen, Kontrak Habis, lalu Kerja Serabutan

Soegeng Soejono, satu di antara segelintir orang Indonesia yang masih tersisa di tanah pengasingan, Republik Ceko. Meski begitu, di usia senjanya, dia ingin mengabdikan tenaga dan pikiran untuk ‘Tanah Air’-nya. Siang itu, 15 Oktober, rombongan Jawa Pos Group yang baru saja mengikuti Kongres Koran Sedunia di Wina, Austria, sudah ditunggu sejumlah staf KBRI di Praha.

Tempatnya bukan di kantor KBRI, melainkan di sebuah taman di sentra ibu kota Republik Ceko itu. Taman tersebut begitu ramai. Ribuan wisatawan dari berbagai negara hilir-mudik menikmati suasana pusat perbelanjaan suvenir ala Malioboro, Jogja tersebut. Meski begitu, pertemuan informal antara staf KBRI Praha dan rombongan Jawa Pos Group di taman kota itu berlangsung akrab. ‘’Hati-hati, dompet, tas, dan kamera. Di sini banyak copet. Tidak hanya di Indonesia yang ada copetnya,’’ ujar Guntur, salah seorang staf KBRI Praha, mengingatkan.

Guntur lalu mengenalkan tiga laki-laki tua yang akan jadi pemandu rombongan. Mereka adalah Soegeng Soejono, Siswantono dan Anwar Purnama. Mereka bukan staf KBRI, tapi tiga kakek-kakek itu memang sering ‘dimanfaatkan’ tenaganya untuk jadi guide (pemandu) orang Indonesia yang berkunjung ke Ceko. ‘’Bapak-bapak ini yang akan mendampingi rombongan. Beliau sudah berpengalaman,’’ ujar Guntur.Tiga orang itu memang asli Indonesia. Hanya, mereka sudah puluhan tahun ‘terdampar’ di Republik Ceko. Bahkan, sudah jadi warga negara itu.

Mereka adalah para pelajar yang dulu dikirim pemerintah Soekarno pada 1960-an untuk belajar di Eropa. Namun, akhirnya tak bisa kembali karena dituduh komunis oleh pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto.  ‘’Kami ini orang-orang terbuang. Kami sangat kecewa pada pemerintahan Soeharto yang sewenang-wenang dan asal tuduh. Kami dibilang anggota PKI,’’ ungkap Soejono mewakili dua temannya.

Meski usianya sudah menginjak 73 tahun, Soejono tampak masih gesit dan sehat. Logat dan gaya bicara bahasa Indonesianya juga tak berubah jadi kebarat-baratan. Bahkan, terdengar njawani. ‘’Lha saya ini asli Madiun, tapi dibesarkan di Jogja dan Magelang. Saya lulusan SMA Pendowo, Magelang, 1958,’’ aku laki-laki berpostur kecil dengan guratan wajah ramah itu.

Begitu lulus SMA, Soejono memang tak langsung melanjutkan kuliah. Orangtuanya tak punya biaya. Baru pada 1963 dia berkesempatan menempuh pendidikan di perguruan tinggi. ‘’Saya masih ingat meninggalkan Indonesia pada 10 September 1963. Sejak itu tak pernah kembali ke Indonesia. Jadi, sudah 48 tahun lebih saya tinggal di Ceko,’’ jelasnya.

Di negara sosialis itu, Soejono belajar filsafat di Charles University. Tapi, belum sempat merampungkan kuliah, di Tanah Air pecah revolusi berdarah, Gerakan 30 September 1965 yang konon didalangi PKI.

Kondisi inilah yang akhirnya membawa ketidakpastian bagi sebagian mahasiswa yang sedang menempuh studi di luar negeri, terutama di negara-negara Eropa Timur. Sebab, mereka dianggap berhaluan ‘kiri’ dan PKI. Akibatnya, mereka tak berani pulang ke Tanah Air. ‘’Kalau pulang, berarti setor nyawa. Kalau tak dibunuh, ya masuk bui,’’ ujar ayah dua anak itu.

Dia menyebut beberapa kawannya yang akhirnya tewas begitu tiba di Indonesia. Beberapa lainnya dibuang ke Pulau Buru bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer. ‘’Tapi, ada juga yang selamat. Bahkan, njadi menteri dan pejabat di era Orba maupun setelah itu,’’ lanjut Soejono tanpa bersedia menyebut nama-nama itu.

Menurutnya, dari 100 mahasiswa yang dikirim pemerintah Soekarno ke Eropa Timur, akhirnya tinggal sekitar 30 yang memilih tak pulang ke Tanah Air, termasuk Soejono. ‘Orang-orang terbuang’ itu kemudian melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto. Mereka antipati terhadap rezim Orba yang mereka nilai zalim dan sewenang-wenang.

Selain filsafat, Soejono mempelajari pedagogik dan psikologi anak di kampus yang sama. Kelak, tiga ilmu itu dia manfaatkan untuk mengajar di almamaternya. ‘’Saya sepuluh tahun mengajar di Charles University. Terutama mengajar bahasa dan budaya Indonesia pada para mahasiswa Ceko,’’ tuturnya. Di Charles University memang ada Indonesian Studies. Bahkan, sampai kini program itu masih dipertahankan. Soejono mesti membanting tulang untuk bertahan hidup di negeri orang. Itu sebabnya, selain mengajar, dia bekerja sambilan di perpustakaan Kota Praha.

Dia kembali bekerja ekstra lagi setelah kontraknya mengajar dan menunggu perpustakaan habis. ‘’Saya kemudian jadi buruh serabutan. Khususnya untuk kegiatan pameran-pameran,’’ tambahnya.

Source : http://www.Riaupos.co.id

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s